www.AlvinAdam.com

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

thumbnail

Posted by On 02.55

Gempa Darat dan Laut Berpotensi Melanda Sumbar

  • VIVA â€" Gempa bumi dengan magnitude 5,4 Skala Richter yang disebabkan aktivitas Zona Sesar Sumatera di Segmen Sumani pada Sabtu 21 Juli 2018, pukul 14.58 WIB, kembali membuktikan jika wilayah Provinsi Sumatera Barat, memiliki potensi kegempaan yang sangat besar.

    Potensi gempa di Ranah Minang ini, tidak hanya berasal dari daratan. Namun, juga laut. Zona Megathrust Mentawai dan Sesar Sumatera, merupakan dua potensi kegempaan yang menjadi ancaman serius bagi masyarakat penganut sistem kekerabatan matrilineal ini.

    Peneliti sejarah kegempaan Sumatera Barat, Yose Hendra mengatakan, Sumbar merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi kekayaan yang sangat luar biasa. Baik dari sisi keindahan alam, kuliner hi ngga seni dan budaya.

    Gugusan Bukit Barisan yang membentang dari Aceh hingga Teluk Betung, Lampung berpusat di Sumatera Barat. Lekuk dan ceruk-ceruk dalam dan sempit, membentuk lembah dan ngarai-ngarai yang menawan seperti, Ngarai Sianok, Lembah Harau, Lembah Anai, Silokek, dan Ngalau.

    Namun, siapa sangka, di balik keindahan alam itu, Sumatera Barat bak api dalam sekam. Pada tanahnya mendekam Patahan Sumatera atau Patahan Semangko yang sangat aktif.

    Selain itu, pada lautnya di sisi barat yang menyimpan sejuta keindahan dan keanekaragaman bahari, juga bersemayam Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia yang terus berdenyut.

    Sewaktu-waktu, dengan waktu dan episentrum yang tidak bisa ditebak, lempeng tersebut akan melepas kuncian, bergerak mengeluarkan energi melahirkan guncangan yang secara jamak disebut dengan Lindu.

    "Sumatera Barat adalah salah satu daerah rawan bencana gempa. Topogra fisnya berbukit dan berlembah yang dihuni oleh beberapa gunungapi aktif seperti Gunung Marapi, Gunung Talang, dan Gunung Tandikek. Kondisi ini menjadikan wilayah Sumatra Barat sering diguncang letusan gunung api yang kadang diikuti lindu pula," kata Yose Hendra, Senin 23 Juli 2018.

    Lokasi gempa darat Solok, Sumatera Barat.

    Sejumlah pakar lanjut Yose, gempa terjadi karena adanya pergesekan antarlempeng tektonik yang berada di bawah permukaan bumi. Dampak dari pergesekan itu menimbulkan energi yang luar biasa dan dapat menimbulkan guncangan di permukaan yang kemudian dapat menimbulkan kerusakan hebat pada sarana dan prasarana, serta korban jiwa.

    Akumulasi energi penyebab terjadinya gempa bumi ini, dihasilkan dari pergerakan lempeng-lempeng tektonik. Energi yang dihasilkan, kemudian dip ancarkan ke segala arah berupa gelombang gempa bumi, sehingga efeknya dapat dirasakan sampai ke permukaan bumi.

    Yose menjelaskan, berdasarkan hasil riset para ahli kegempaan menyebutkan, Sumatera Barat, merupakan bagian integral Indonesia, terletak di kawasan yang dinamakan "Pacific Ring of Fire", yaitu sebuah zona di mana sangat sering terjadi gempabumi dan meletusnya gunung berapi.

    Lebih dari 90 persen gempa bumi yang terjadi di dunia, dan sekitar 81 persen gempa berkategori kuat terjadi di zona ini.

    Berada di simpul seismik dunia, setidaknya ada dua sumber besar gempa bumi yang berada di perut bumi Sumatera Barat atau sekitarnya. Pertama, gempa bumi yang bersumber dari peristiwa subduksi yang terjadi ketika akibat tabrakan atau pertemuan dua lempeng samudera Indo-Australia dan lempeng Eurasia.

    "Sejumlah ahli menyebutkan, proses subduksi akan terus berproses, sehingga gempa bumi pun akan terus berlangsung. Hal inilah yang menjadi sumber gempa yang juga bisa memicu tsunami," kata Yose.

    Yang kedua, gempa bumi yang disebabkan patahan besar yang ada di darat, yaitu Sesar Sumatera atau Patahan Sumatera, kadang juga disebut dengan istilah Sesar Semangko atau Patahan semangko. Patahan ini membentang sepanjang 1.900 kilometer dari teluk Semangko di Lampung hingga ke Aceh.

    Bahkan, geolog Dany Hilman dan Kerry Sieh jelas Yose, sesar Sumatera ini dibagi tiga wilayah, yakni wilayah utara, wilayah tengah, dan wilayah selatan. Dari 19 parameter sumber gempa pada sesar Sumatera, tujuh di antaranya berada di teritorial Sumatera Barat.

    Ketujuh segmen tersebut adalah Segmen Angkola, Segmen Barumun, segmen Sumpur, Segmen Sianok, Segmen Sumani, Segmen Suliti, dan Segmen Siulak.

    Lihat Juga
    • Total Empat Korban dan 85 Rusak akibat Gempa di Solok

    • 3 Daerah di Sumbar Diguncang Gempa dalam Lima Hari

    • Warga Solok Memilih Tidur di Tenda Darurat usai Gempa

    Kejadian gempa bumi besar dengan menimbulkan korban jiwa, serta mer usak infrastruktur dan bangunan yang ada di Sumatera Barat, umumnya terjadi pada wilayah yang merupakan jalur Patahan Semangko dan kawasan yang dekat dengan zona subduksi, pertemuan ketiga lempeng di Samudra Hindia.

    "Dalam sejarah modern Sumatera Barat, gempa 30 September 2009 menjadi bencana paling mematikan dan paling merusak. Gempa yang berkekuatan 7,9 SR tersebut, berpusat di kawasan Padang Alai, Kabupaten Padangpariaman. Dampaknya, menyebar hingga kesejumlah daerah. Gempa ini menyebabkan 1.195 jiwa tewas, 181.995 unit rumah rusak berat dan rusak sedang, serta 67.838 unit rumah rusak ringan," kata Yose.

    Riwayat Gempa

    Peta Sumatera Barat.

    Yose Hendra menjelaskan, secara historis, Sumatera Barat merupakan daerah langganan gempa dengan catatan 790 kejadian sepanjang 1900-2010. Dari angka tersebu t, delapan gempa dikategorikan megathrust atau gempa berkekuatan besar dengan rincian, tahun 1797,1833, 1926, 2004, 2005, 2007, 2009, dan 2010.

    Gempa tahun 1797, merupakan serangkaian gempa awal yang terjadi pada bagian segmen Sumatera di Sesar Sunda. Gempa ini menimbulkan tsunami di Kota Padang. Sejauh ini, gempa yang bersumberkan dari lempeng di dasar laut lebih sering ketimbang yang bersumber di daratan.

    Sejarah kegempaan Sumatera Barat juga pernah dibarengi tsunami seperti gempa tahun 1797, 1883, dan tahun 2010. Gempa bumi tersebut merusak dan meruntuhkan sejumlah rumah warga. Kuatnya gelombang tsunami juga sanggup menggeser sebuah kapal bermuatan 150 ton hingga 200 ton milik Inggris, yang tengah sandar di pelabuhan Batang Arau.

    Gelombang tsunami itu menjangkau kota hingga radius satu kilometer ke daratan. Di Pantai Air Manis, selatan Padang juga dilaporkan perahu-perahu kecil hanyut hingga 1,8 kilometer kehulu sungai. Sebagian ahli memperkirakan, munculnya tsu nami akibat longsor di bawah laut yang dipicu gempabumi.

    Dalam penelitiannya, Yose Hendra juga menyebutkan hampir empat puluh tahun berikutnya, tepatnya 25 November 1833, gempa disertai tsunami kembali terjadi di Sumatera Barat. Gempa tersebut terjadi pukul 22.00 WIB dengan kekuatan berkisar 8,8 SR hingga 9,2 SR.

    Peristiwa gempa 1833 ini, kemudian sedikit disinggung Ridder van de Militaire Willems Orde Kelas IV Letnan I Infanteri J.C Boelhouwer. Dia bertugas di Sumatera Barat dari tahun 1831 hingga 1834.

    "Dalam memori dengan judul Kenang-Kenangan di Sumatera Barat selama tahun-tahun 1831-1834, dia menceritakan, ketika bertamu ke rumah seorang pejabat Belanda pada malam di tahun 1833, terasalah guncangan gempa. Dia melihat seorang gadis yang duduk di atas bangku hampir saja meluncur sebelum dipegang oleh beberapa orang pemuda," kata Yose.

    Pantauan melalui seismograf pergerakan gunung api

    Meski beberapa kurun waktu terakhir gempa 30 September 2009, termasuk salah satu gempa tektonik terbesar dalam sejarah kegempaan Indonesia, namun menurut para ahli gempa, ancaman gempa besar di Sumatera Barat akan terus berlanjut, bahkan dengan ancaman lebih besar dibanding 2009 tersebut.

    Prediksi itu mulai tersibak, ketika selanjutnya terjadi rentetan gempa-gempa kecil di kawasan Sumatera Barat. Puncaknya, pada 25 Oktober 2010 di Pulau Pagai, Kabupaten Kepulauan Mentawai.

    Gempa dengan kekuatan 7,2 SR tersebut menimbulkan tsunami setinggi tiga hingga tujuh meter. Data yang dilansir dari Rencana Aksi Mentawai, tsunami itu menimbulkan korban tewas sebanyak 509 orang, 17 orang mengalami luka-luka, 21 orang hilang, dan 11.425 orang mengungsi, 1.269 rumah rusak.

    "Kenyataan, sejarah ini mempertegas, jika wilayah Sumatera Barat merupakan salah satu daerah yang paling rawan terkena gempa atau tsunami. Maka dari itu, sudah sepatutnya rentetan sejarah gempa dan tsunami yang berlalu dipelajari dengan seksama untuk menjadi bahan masukan bagi kesiapsiagaan ke depannya," kata Yose.

Sumber: Berita Sumatera Barat

no image

Posted by On 03.00

23 Rumah Warga Solok Rusak Akibat Gempa

23 Rumah Warga Solok Rusak Akibat Gempa

Selain menyebabkan satu korban meninggal dunia, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Solok, Sumatera Barat, mencatat sedikitnya 23

Selain menyebabkan satu korban meninggal dunia, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Solok, Sumatera Barat, mencatat sedikitnya 23 rumah rusak akibat gempa Sabtu (21/7) sore.
Gempa bumi berkekuatan 5,4 skala richter yang mengguncang sumatera barat, Sabtu (21/7) sore, terjadi akibat adanya peningkatan aktifitas zona sesar sumatera pada segmen sumani.
Akibat gempa, sebanyak 23 rumah rusak, yakni 17 unit rusak ringan dan 6 unit rusak berat. Dampak gempa terparah terjadi di 2 kecamatan, yakni Kecamatan Danau Kembar dan Kecamatan Lembah Gumanti, Solok. Sumber: Kompas TV Ikuti kami di Seekor Ular Sepanjang 7 Meter Ditangkap Warga Puuwanggudu Sulawesi Tenggara Sumber: Berita Sumatera Barat

thumbnail

Posted by On 06.15

Gempa 5,5 SR Sumbar Akibat Sesar Sumani Bergeser

  • VIVA â€" Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono mengatakan, gempabumi dengan magnitude 5,5 Skala Richter yang terjadi pada 14.58 WIB, diakibatkan adanya aktivitas Zona Sesar Sumatera di Segmen Sumani.

    Menurut Rahmat, hasil analisis BMKG menunjukkan, informasi awal gempabumi ini memiliki magnitude 5,5 SR yang selanjutnya dilakukan pemutakhiran menjadi 5,4 SR.

    Episenter gempabumi ini terletak pada koordinat 1,07 LS dan 100,55 BT, atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 15 kilometer arah barat daya Kota Solok, Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat pada kedalaman 14 kilometer.

    "Jika memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa ini merupakan jenis gempabumi tektonik kerak dangkal (shallow crustal earthquake) yang terjadi akibat aktivitas Zona Sesar Sumatera (Sumatera Fault Zone) pada Segmen Sumani. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi ini dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan jenis sesar geser mendatar (Strike Slip)," kata Rahmat Triyono, Sabtu, 21 Juli 2018.

    Dampak gempabumi berdasarkan Peta Tingkat Guncangan (Shakemap BMKG) kata Rahmat, menunjukkan guncangan dirasakan antara lain di daerah Kota Padang dan Painan I-II SIG (II-V MMI).

    Lihat Juga
    • Gempa Sumbar, Satu Orang Tewas Tertimpa Rumah

    • Malang Digoyang Lima Kali Gempa, Warga Telat Menyadari

    • Malang dan Sekitar Digoyang Lima Kali Gempa

    Sesuai dengan laporan dari masyarakat, gempabumi ini dirasakan di Gunungtalang II SIG BMKG (V MMI), Kota Padang II SIG BMKG (III-IV MMI), Bukittinggi II SIG BMKG (III MMI), Padang Panjang dan Padang Pariaman I-II SIG BMKG (II-III MMI), dan Sawahlu nto I SIG BMKG (II MMI).

    Hingga pukul 15.14 WIB, hasil monitoring BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempabumi susulan (aftershock). Kepada masyarakat diimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

    Akibat guncangan gempa ini, sejumlah rumah dilaporkan mengalami kerusakan dan seorang warga meninggal dunia karena tertimpa rumah.

    Baca: Gempa Sumbar, Satu Orang Tewas Tertimpa Rumah

Sumber: Berita Sumatera Barat

no image

Posted by On 22.04

Cuaca Berawan dari Pagi Hingga Sore Hari di Sebagian Wilayah ...

Covesia.com - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan kondisi cuaca di sebagian wilayah Sumatera Barat pada Sabtu (21/7/2018) berawan dari pagi hingga sore hari.

Dan akan diguyur hujan dengan intensitas sedang sepanjang sore ini di wilayah Padang, Kepulauan Mentawai, Pasaman Barat, Agam, Bukittinggi, Padangpanjang, Pariaman dan Pesisir Selatan.

Hujan dengan intensitas ringan di malam hari di wilayah Padang, Pariaman, Kepulauan Mentawai, Painan, Padang Panjang, Solok dan Batusangkar.

Suhu hari ini berkisar antara 23-30 derajat celcius dengan kelembapan 75-95 persen.

(sea)

Sumber: Berita Sumatera Barat