www.AlvinAdam.com

Berita 24 Sumatera Barat

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Perkembangan Harga di Sumatera Barat Hingga Pertengahan ...

Posted by On 04.59

Perkembangan Harga di Sumatera Barat Hingga Pertengahan ...

Covesia.com - Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Mei 2018 mencatat inflasi sebesar 0,36%, lebih tinggi dibandingkan April 2018 yang sebesar 0,02% (mtm). Meski meningkat, tekanan inflasi pada Ramadhan tahun ini tidak jauh berbeda dibandingkan Ramadhan tahun 2017 yang mencapai 0,32% (mtm). Besaran inflasi pada Ramadhan 2018 juga masih dibawah rata-rata inflasi Ramadhan periode 3 (tiga) tahun sebelumnya (2014-2016) yang sebesar 0,76% (mtm).

Wakil Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah Provinsi Sumbar, Endy Dwi Tjahjono, seperti rillis yang diterima covesia.com, Selasa (5/6/2018) mengatakan, pergerakan harga di Sumbar ini masih sejalan dengan nasional yang mencatat inflasi sebesar 0,21% (mtm) pada Mei 2018.

“Secara tahunan, inflasi Sumatera Barat pada Mei 2018 sebesar 3,12% (yoy) berada di bawah laju inflasi nasional yang sebesar 3,23% (yoy). Secara tahun berjalan, laju inflasi Sumate ra Barat dari Januari hingga Mei 2018 tercatat 1,05% (ytd), atau lebih rendah dibandingkan nasional yang sebesar 1,30% (ytd). Realisasi inflasi bulanan Sumatera Barat pada periode Mei 2018 menduduki posisi ke-14 dari 26 provinsi yang mengalami inflasi. Adapun provinsi yang mengalami inflasi tertinggi nasional adalah Maluku (1,24%, mtm) dan diikuti Sulawesi Tenggara (1,05%, mtm). Secara spasial, 2 (dua) kota perhitungan inflasi di Sumatera Barat yakni Padang mengalami inflasi 0,46% (mtm), sementara Bukittinggi mengalami deflasi 0,39% (mtm),” ungkapnya.

Endy menyebutkan, secara disagregasi, laju inflasi bulanan Sumatera Barat pada Mei 2018 terutama disumbang oleh kenaikan harga kelompok volatile food dan kelompok inti.

“Kelompok volatile food mengalami inflasi sebesar 0,98% (mtm), meningkat dibandingkan bulan April 2018 yang masih mengalami deflasi sebesar 0,33% (mtm). Lebih rinci, inflasi kelompok ini terutama disumbang oleh naiknya harga komoditas cabai merah, baw ang merah, dan daging ayam ras yang memberikan andil inflasi sebesar 0,15% (mtm); 0,08% (mtm); dan 0,06% (mtm) terhadap keseluruhan inflasi Sumatera Barat. Inflasi pada komoditas tersebut terjadi karena masih terbatasnya pasokan di pasar. Produksi bawang merah di Alahan Panjang Kabupaten Solok menurun karena masih dalam masa tanam, sehingga menyebabkan stok komoditas tersebut terganggu. Sedangkan, kenaikan harga daging ayam ras disebabkan oleh berkurangnya pasokan DOC (day old chicken) di pasar. Di sisi lain, deflasi komoditas beras dan jengkol menahan lebih lanjut tekanan inflasi pada kelompok volatile food,” jelasnya.

Dari kelompok inti,laju inflasi kelompok ini terpantau meningkat namun pada level moderat.

“Kenaikan harga kelompok inti pada Mei 2018 tercatat sebesar 0,16% (mtm), atau lebih tinggi dibandingkan April 2018 sebesar 0,02% (mtm). Penyumbang utama inflasi kelompok inti terutama berasal dari komoditas nasi dengan lauk dan ketupat/lontong sayur, dengan an dil inflasi masing-masing sebesar 0,03% (mtm) dan 0,02% (mtm). Kenaikan harga kedua komoditas tersebut merupakan imbas dari naiknya harga bahan baku (terutama bumbu-bumbuan),” ujarnya.

Sementara itu, tekanan inflasi kelompok barang yang diatur pemerintah (administered prices) terpantau mereda pada Mei 2018.

“Perkembangan harga kelompok ini mengalami inflasi 0,06% (mtm), menurun dibandingkan April 2018 yang sebesar 0,39% (mtm). Tidak adanya kebijakan penyesuaian harga BBM non subsidi dan tarif tenaga listrik (TTL) pada Mei 2018 menjadi faktor utama meredanya tekanan inflasi kelompok administered prices. Adapun komoditas yang menyumbang kenaikan harga pada kelompok ini adalah rokok putih sebagai imbas dari penyesuaian harga secara gradual atas kenaikan tarif cukai rokok tahun 2018,” tuturnya.

Mencermati perkembangan terkini, pergerakan IHK Sumatera Barat perlu diantisipasi karena potensi tekanan inflasi yang lebih tinggi pada Juni 2018.

“Sumber tekanan inflasi utama berasal dari kelompok barang yang diatur pemerintah, khususnya dampak lanjutan kenaikan tarif angkutan udara seiring dengan masih berlangsungnya arus mudik pasca lebaran dari/ke Padang. Selain itu, permintaan terhadap komoditas pendidikan, khususnya pendaftaran dan keperluan sekolah diperkirakan meningkat seiring dengan masuknya periode tahun ajaran baru.Selain itu, meningkatnya permintaan masyarakat terhadap komoditas bahan pangan strategis menjelang Idul Fitri 2018 akan berimbas pada kenaikan harga kelompok volatile food,” jelasnya.

Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Barat melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasi tekanan inflasi ke depan.

“Dalam rangka mengantisipasi gejolak tekanan harga saat Ramadhan dan HBKN Idul Fitri 2018, TPID secara aktif melakukan koordinasi dari jajaran pimpinan hingga level teknis. Salah satunya adalah melalui High Level Meeting TPID Sumatera Barat yang dipimpin langsung oleh Gubernur Sumatera Barat, Bapa k Irwan Prayitno, pada 15 Mei 2018. Secara umum, kesimpulan pada pertemuan tersebut adalah TPID di Sumatera Barat siap melakukan: 1) peningkatan koordinasi antar daerah (Provinsi, Kab, dan Kota) dan OPD terkait, dalam hal pengendalian inflasi daerah; 2) penguatan sinergi dan komunikasi terhadap informasi, ketersediaan dan kelancaran bahan pangan strategis, khususnya saat Ramadhan dan Idul Fitri 2018; dan 3) menggandeng para ulama untuk turut serta mensyiarkan atau menghimbau masyarakat agar memaknai definisi dari puasa sehingga tidak berkonsumsi secara berlebihan saat Ramadhan,” kata dia.

Lebih lanjut Endy mengatakan, wujud nyata TPID Sumatera Barat dalam pengendalian inflasi Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini adalah dengan melakukan pasar murah dan sidak pasar selama Ramadhan 2018 untuk memastikan kestabilan harga dan kecukupan pasokan di pasar. Secara total, di Kota Padang setidaknya terdapat 20 pasar murah yang dilakukan oleh Disperindag Provinsi Sumatera Barat, Disperinda g Kota Padang, Biro Perekonomian Sumatera Barat, dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Barat selama Ramadhan tahun ini. Selain pasar murah, Bulog Divre Sumatera Barat juga melakukan operasi pasar, khususnya beras dan daging beku, untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan masyarakat hingga lebaran nanti.

(ril/don)


Sumber: Google News | Berita 24 Sumbar

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »